Pemerintah Beberkan Kendala Pengembangan Smelter di RI

Progres Pembangunan Gardu Induk 150 kV Smelter. CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Pemerintah saat ini terus gencar menggalakkan program hilirisasi tambang untuk peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Salah satunya dengan menggenjot pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter).

Namun demikian, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif tak menampik dalam proses pembangunannya sendiri, proyek smelter kerap menemui kendala. Misalnya mulai dari sumber pendanaan hingga energi yang dibutuhkan untuk operasional proyek smelter.

“Pasokan energi ini sangat tergantung dari pertama PLN kedua dari industrinya sendiri yang mau dirikan pembangkitnya sendiri. Untuk mengatasi ini pemerintah telah mempertemukan mereka dengan para bank dan PLN untuk berunding untuk bisa melihat peluangnya ada dimana,” kata dia dalam diskusi Peningkatan Kapasitas Media Sektor Minerba, Rabu (8/3/2023).

Selain itu, pembebasan lahan masyarakat juga menjadi isu tersendiri dalam proses pembangunan proyek smelter. Karena itu, diperlukan pendekatan sosial yang baik misalnya melalui pergantian tanah atau sewa lahan secara business to business.

“Itu harus dilakukan oleh industri, perijinan pemerintah berusaha untuk mempercepat ini,” katanya.

Kemudian tantangan berikutnya yakni mengenai teknologi yang akan digunakan, Irwandy mengakui bahwa Indonesia masih lemah mengenai penggunaan teknologi. Sehingga dukungan dari negara lain mengenai penggunaan teknologi cukup penting.

“Itu lah kendala utama kita. Nah tenaga kerja asing tergantung kerja sama dari industri dan pemerintah. Dimana selama tenaga kerja bisa mengenai itu kecuali dalam kontrak karena teknologi dari mereka. Sehingga ada kontrak untuk konstruksinya dari mereka sendiri jadi bahwa tenaga kerja sendiri ini tergantung dalam konteksnya,” ujarnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*