Krisis Perbankan Kembali Mencuat, Bursa Asia Dibuka Lesu

A man is reflected on an electronic board showing a graph analyzing recent change of Nikkei stock index outside a brokerage in Tokyo, Japan, January 7, 2019. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung melemah pada perdagangan Rabu (26/4/2023), di mana kekhawatiran terkait krisis perbankan global kembali muncul dan dapat kembali membebani pasar.

Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melemah 0,44%, https://hokijackpot.online/ Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,37%, Shanghai Composite China terpangkas 0,36%, Straits Times Singapura terjerembab 0,35%, dan ASX 200 Australia terdepresiasi 0,38%.

Hanya indeks KOSPI Korea Selatan yang dibuka menguat pada hari ini, yakni naik 0,11%.

Dari Australia, data inflasi pada periode kuartal I-2023 akan dirilis pada hari ini, di mana pasar memprediksi inflasi Australia akan kembali menurun menjadi 6,9% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan turun menjadi 1,3% secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq).

Jika inflasi terus menurun, maka hal tersebut dapat merubah sikap bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) dalam menentukkan kebijakan suku bunga acuannya.

Namun, RBA juga masih perlu melihat data-data ekonomi lainnya, terutama data tenaga kerja.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung melemah terjadi di tengah amblesnya bursa saham AS, Wall Street kemarin, karena investor khawatir kembali dengan krisis perbankan di AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup ambles 1,02%, S&P 500 ambrol 1,58%, dan Nasdaq Composite ambruk 1,98%.

Jatuhnya bursa AS dipicu oleh kembali meningkatnya kekhawatiran mengenai krisis perbankan AS serta bayang-bayang resesi.

Hal ini terjadi setelah salah satu perusahaan perbankan di AS yang sempat menjadi ‘korban’ krisis yakni First Republic Bank, setelah perusahaan melaporkan jumlah dana pihak ketiga mereka turun 40% atau US$ 104,5 miliar atau sekitar Rp1.550 triliun pada kuartal I-2023. Saham First Republic Bank pun ambruk lebih dari 49% pada akhir sesi perdagangan kemarin.

Bloomberg juga melaporkan perusahaan tengah mencoba menyeimbangkan neraca keuangan mereka, termasuk dengan menjual sekuritas dan loan senilai US$ 100 miliar.

Kesehatan First Republic Bank terus menjadi sorotan karena bank tersebut rawan kolaps seperti yang dialami pada Silicon Valley Bank dan Signature Bank.

Investor juga menunggu laporan keuangan raksasa teknologi Microsoft Corp yang akan dirilis setelah jam perdagangan berakhir.

Di lain sisi, periode blackout menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 2-3 Mei mendatang juga ikut membuat pasar cenderung wait and see.

Di tengah periode blackout jelang rapat FOMC, beberapa data ekonomi di AS akan dirilis pekan ini. Pada Kamis pekan ini, AS akan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2023 serta klaim pengangguran.

Setelah tumbuh 2,9% pada kuartal IV-2022, ekonomi AS diperkirakan akan melandai atau bahkan terkontraksi pada kuartal I-2023 akibat kenaikan suku bunga.

Sementara itu, klaim pengangguran diperkirakan meningkat menjadi 280.000 pada pekan yang berakhir pada 22 April, dari 245.000 pada pekan sebelumnya.

Pada Jumat, AS juga akan merilis data pengeluaran individu konsumen untuk Maret serta indeks kepercayaan konsumen April.

Dua data ini sangat penting bagi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam mempertimbangkan kebijakan moneternya pada pekan depan.

Sejauh ini, pasar memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bp).

Berdasarkan survei Fedwatch menunjukkan pasar kini bertaruh 76,1% jika The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bp). Sedangkan sisanya yakni 23,9% bertaruh The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*