Kalau Edrogan Lengser, Kabar Baik atau Buruk Bagi Turki?

ISTANBUL, TURKEY - MAY 14: An election official holds up a presidential ballot paper marked with a vote for Turkey's President Recep Tayyip Erdogan during vote counting in Turkey's general election on May 14, 2023 in Istanbul, Turkey. Today, President Recep Tayyip Erdogan faces his biggest electoral test as the country goes to the polls in the country's general election. Erdogan has been in power for more than two decades -- first as prime minister, then as president -- but his popularity has recently taken a hit due to Turkey's ongoing economic crisis and his government's response to a series of devastating earthquakes. Meanwhile, the political opposition has united around one candidate, Kemal Kilicdaroglu, with some pre-election polls giving him an edge. (Photo by Chris McGrath/Getty Images)

Kini Turki tengah melangsungkan Pemilihan Umum (Pemilu) tepatnya pada Minggu (14/5/2023) waktu setempat. Dalam pemilu tersebut, Presiden Recep Tayyip Erdogan dan saingannya Kemal Kilicdaroglu dilaporkan bersaing ketat.

Berdasarkan hasil pemilu Turki sementara, menunjukan pemilihan presiden putaran kedua akan digelar, karena https://apkmeja138.com/ tak ada yang melewati ambang batas 50% untuk menang. Namun baik partai Erdogan maupun Kilicdaroglu mengklaim keunggulan.

Mengutip CNBC International, awalnya Erdogan dilaporkan memimpin perhitungan suara sangat signifikan. Tetapi, keunggulan makin terkikis seiring berjalannya perhitungan.

Berdasarkan data dari kantor berita milik negara Anadolu, dengan hampir 91% kotak suara dihitung, Erdogan memimpin dengan 49,86% dan Kilicdaroglu dengan 44,38%. Tapi oposisi menyebut Kilicdaroglu unggul dengan 47,42%, sementara Erdogan memiliki 46,48%.

Pemungutan suara pada Minggu merupakan satu pemilihan yang paling penting dalam sejarah 100 tahun negara itu. Kontes tersebut bisa saja mengakhiri pemerintahan 20 tahun Erdogan.

Pemilihan presiden akan memutuskan tidak hanya siapa yang memimpin Turki, negara anggota NATO berpenduduk 85 juta jiwa. Tetapi juga bagaimana arah ekonominya di tengah krisis biaya hidup yang mendalam, dan bentuk kebijakan luar negerinya.

Ekonomi Turki Di Bawah Kepemimpinan Edrogan

Di tangah Edrogan Turki berubah menjadi anggota NATO dan negara terbesar kedua di Eropa yang memiliki fungsi signifikan sebagai pemain global.

Ia memodernisasikan negerinya melalui megaproyek seperti jembatan baru, rumah sakit, dan bandara, serta membangun industri militer yang dicari oleh negara asing.

Sejak menjadi anggota NATO pada 1952 (hanya tiga tahun setelah pembentukannya), Turki telah menjadi salah satu mitra kontribusi terbesar aliansi, menjadikan kemampuan dan kapabilitasnya sebagai bagian integral dari struktur komando dan kekuatan aliansi, dengan jumlah tentara terbesar kedua.

Bercerita tentang turki, selalu erat kaitannya dengan sosok Presiden Recep Tayyip Erdogan yang sudah 20 tahun lamanya memimpin negara tersebut. Erdogan sudah memimpin Turki sejak 2003. Memang, jabatan pertama Erdogan pada 2003 bukanlah presiden, melainkan perdana menteri.

Ia baru dilantik sebagai orang nomor satu Turki pada 10 Agustus 2014, diangkat jadi presiden periode kedua pada 2018.

Nama Edrogan begitu dikenal. Pasalnya, di bawah kepemimpinan Erdogan, nasib perekonomian Turki naik turun selama dua dekade.

Teranyar, ide gila Erdogan membuat Turki mencatat rekor inflasi 85,51 persen pada Oktober 2022 lalu, terdalam sejak 1997 alias 26 tahun terakhir. Guncangan inflasi Turki terjadi sejak akhir 2021 lalu, di mana dunia dilanda pandemi Covid-19 hingga muncul perang Rusia-Ukraina.

Eksperimen Erdogan saat itu adalah menekan harga konsumen yang sangat tinggi dengan menurunkan biaya pinjaman. Padahal, langkah itu berlawanan dengan teori ekonomi konvensional yang dianut hampir seluruh negara besar lainnya.

Ekonomi Turki sempat bergejolak di tengah intervensi Erdogan menahan suku bunga tetap rendah meski inflasi tinggi dan mata uang lira terjun terdalam terhadap dolar AS. Turki mencatat inflasi 50,51% pada Maret 2023 dan hanya turun menjadi 43,69 pada April.

Sejak Agustus, Bank Sentral Turki memang sudah mengejutkan pasar dengan memangkas suku bunga utamanya sebesar 100 basis poin.

Tingkat suku bunga acuan yang tadinya berada di 14% selama 7 bulan terakhir, kemudian dipangkas menjadi 13%. Ini terjadi di tengah inflasi yang saat itu nyaris menembus 80%.

Saat ini inflasinya sudah sangat tinggi, Edrogan membela kebijakan yang anti mainstream itu untuk memerangi krisis biaya hidup. Saat bank-bank sentral di seluruh dunia menaikkan biaya pinjaman dalam upaya untuk menjinakkan harga konsumen yang melonjak, tetapi Turki telah melawan tren global.

Erdogan menyebut suku bunga yang lebih tinggi sebagai musuh terbesarnya. Bahkan dengan pemilihan umum tahun depan, Erdogan berpendapat bahwa suku bunga tinggi adalah penyebab inflasi, bukan sebaliknya, yang bertentangan dengan teori ekonomi ortodoks.

Kini suku bunga Turki di angka 10% setelah sebelumnya terus diturunkan sejak Agustus 2022. Pemotongan suku bunga yang telah lama didesak oleh Erdogan itu juga telah menyebabkan suku bunga riil di teritori negatif dan telah mempercepat krisis biaya hidup untuk rumah tangga Turki.

Meski demikian, keputusan ini seolah dipikulnya dengan tanggung jawab. Pada akhir tahun lalu, ia mengatakan siap fokus membenahi pertumbuhan ekonomi Turki. Erdogan meyakinkan bakal menempuh segala cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, baik melalui pinjaman murah maupun dukungan negara lain.

Meski kini inflasi masih terbilang tinggi, namun angka ini jauh lebih baik dari rekor buruk Turki tahun lalu.

Menilik data Bank Dunia per 10 April 2023 masih menempatkan negara dengan 85 juta penduduk itu di urutan ke-19 dunia negara terkaya berdasarkan pendapatan. Total produk domestik bruto (PDB) Turki saat ini dipatok sekitar US$906 miliar atau setara Rp13.464 triliun (asumsi kurs Rp14.861 per dolar AS).

Di sisi lain Turki juga begitu ambisius mengejar ketertinggalan dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, setidaknya dalam rentang 2006-2017. Warga Turki di bawah garis kemiskinan pun berhasil dipangkas hampir setengahnya menjadi 9,8% di kisaran tahun tersebut.

Mengutip Britannica, ekspor utama Turki adalah serat tekstil, benang, kain dan pakaian, besi dan baja, buah-buahan dan sayuran, produk peternakan, tembakau, hingga mesin. Sekitar setengah dari semua perdagangan Turki terjalin dengan Eropa, di mana Jerman menjadi mitra dagang utama.

Selain itu, Turki mengimpor mesin, bahan kimia, produk minyak bumi, peralatan transportasi, hingga barang konsumsi. Rusia dan China adalah sumber impor utama negara pimpinan Erdogan itu. Turki juga melakukan perdagangan cukup signifikan di Timur Tengah, khususnya dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Irak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*