Ancaman Perang Baru di Eropa: NATO, UE & AS Turun Tangan

Tentara Italia yang bertugas dalam misi penjaga perdamaian internasional yang dipimpin NATO di Kosovo berpatroli di dekat jalan yang dibarikade dengan truk oleh warga Serbia di desa Rudare dekat kota Zvecan, Kosovo, Senin (26/12/2022).  Sejak November, Kosovo bergejolak usai ratusan pekerja etnis Serbia ramai-ramai mengundurkan diri. Mereka memprotes keputusan kontroversial pemerintah Kosovo yang melarang orang Serbia di negara itu menggunakan plat nomor dari Beograd. (Photo by ARMEND NIMANI/AFP via Getty Images)

Ancaman perang kembali muncul di Eropa. Setelah Rusia dan Ukraina, kali ini ketegangan muncul antara dua negara, Serbia dan Kosovo.

Melihat hal ini, Amerika Serikat (AS), aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan Uni Eropa mendesak adanya pengekangan maksimum di Kosovo Utara, tepatnya di kota Mitrovica, lokasi di mana konflik dengan etnis Serbia terjadi.

“Kami meminta semua orang untuk menahan diri secara maksimal, mengambil tindakan segera untuk meredakan situasi tanpa syarat, dan menahan diri dari provokasi, ancaman, atau intimidasi,” kata Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam pernyataan bersama, dilansir¬†Reuters, Kamis (29/12/2022).

Sementara itu, pasukan perdamaian NATO di Kosovo (KFOR) meminta semua pihak menahan diri dan mendukung dialog antara semua pihak untuk meredakan ketegangan. KFOR merupakan tentara NATO yang dikerahkan ke Balkan untuk menjaga perdamaian.

“Kami mendesak semua pihak untuk membantu mengaktifkan keamanan dan kebebasan bergerak di Kosovo, dan mencegah narasi yang menyesatkan mempengaruhi proses dialog,” kata KFOR dalam sebuah pernyataan.

Wilayah Kosovo Utara memanas setelah pemerintah Kosovo meminta etnis Serbia di sana untuk menanggalkan plat nomor mobil Serbia mereka dan menggunakan milik Pristina.

Hal ini pun memicu barikade warga Serbia. Sejak 10 Desember, warga Serbia di sana membangun penghalang jalan. Mereka bahkan menutup dua penyeberangan perbatasan antara Serbia dan Kosovo, serta jalur angkutan darat Merdare, dengan truk dan kendaraan berat lainnya.

Sejak Senin, Serbia bahkan menempatkan tentaranya pada siaga tertinggi setelah adanya baku tembak dengan polisi. Ini terjadi beberapa saat setelah penangkapan seorang mantan polisi Serbia karena diduga menyerang petugas polisi selama protes.

Sebenarnya, sekitar 50.000 orang Serbia tinggal di bagian utara Kosovo yang mayoritas penduduknya Albania dan menolak untuk mengakui pemerintah Pristina. Mereka masih melihat Beograd sebagai ibu kota meski Kosovo mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 2008.

Kosovo yang mayoritas Albania mendeklarasikan kemerdekaan dengan dukungan Barat, menyusul perang 1998-99 di mana NATO campur tangan untuk melindungi warga etnis Albania.

Selama lebih dari 20 tahun, Kosovo juga telah menjadi sumber ketegangan antara Barat, yang mendukung kemerdekaannya, dan Rusia, yang mendukung Serbia dalam usahanya memblokir keanggotaan Kosovo di organisasi internasional termasuk PBB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*